Home » Uncategorized » Story: I Love My Brother

Story: I Love My Brother

Welcome

Hello guys! I'm Tika and this is my public blog. I write about my daily life and things I like and dream about. Enjoy!

Calendar

July 2010
M T W T F S S
    Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Life Quotes

1. Live every act fully, as if it were your last.
-Buddha
2. Life is a great big canvas, and you should throw all the paint on it you can.
-Danny Kaye
3. Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning.
-Albert Einstein
4. Every second is of infinite value.
-Johann Wolfgang von Goethe
5. Let there be many windows to your soul, that all the glory of the world may beautify it.
-Ella Wheeler Wilcox

Alunan lagu-lagu kesukaanku terus terdengar di telingaku. Aku mencoba untuk mengganti aktivitas, tetapi aku tetap menyalakan iPodku dan tak beranjak dari kasurku. Waktu terus berjalan, bahkan berlari. Ketika kulihat jam, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ingin rasanya mata menutup, tapi aku tetap harus menunggu, menunggu sang kakak. Detik demi detik, menit demi menit kutunggu dengan sabar, tetap saja suara motor tak terdengar olehku. Karena sangat mengantuk, akhirnya aku tertidur.

‘bangun..bangun..’ teriak Kak Freddie. Bunyi alarmpun berbunyi sangat keras. Karena aku tidak tahan dengan suara ayam berkokok di iPhone kakakku, maka kubangun dengan terpaksa. Kubuka jendela, mataharipun menyinari kamarku dan aku bereskan kamar kesayanganku dengan warna background hijau dan biru muda. Lalu, aku menuruni tangga, kakakku telah menunggu di meja makan dengan beberapa roti dan selai, yummy. ‘kenapa kamu hari ini malas sekali?’ tanya Kak Freddie. ‘Ini kan hari libur, so just enjoy it !’ jawabku sambil mengoles roti dengan selai stroberi. Kami saling pandang tanpa sepatah kata-kata. Lalu kami makan. Setelah makan, kakak berpamitan untuk pergi kuliah jurusaan design grafis. Di rumah, aku hanya bisa mendengarkan musik, online, menonton tv, masak sendiri, membaca novel, apapun yang bisa aku kerjakan di rumah. Tanpa sang kakak, diriku seperti dipaku dan tidak bisa bergerak.

Aku menunggu kakakku hingga pukul sepuluh malam, seperti biasa. Waktu adalah waktu, ia terus berjalan walau seseorang ingin waktu melambat. Suara motor kakakku terdengar ketika waktu menunjukkan pukul satu malam. Ketika kakakku masuk, aku dikejutkan oleh muka sang kakak, ia babak belur dan ia tampak amat marah.

‘Kakak kenapa? Apa yang terjadi?’ kataku dengan suara yang lembut.

‘Apa kau bodoh? Kau tidak melihat mukaku babak belur seperti ini, huh? Bodohnya dirimu sebagai adik menanyakan hal seperti itu. Tentunya aku habis dipukuli orang. Apa kau pernah berfikir?’ jawab Kak Freddie dengan amarah yang tak terbayangkan sebelumnya olehku. Aku tak percaya dia bisa berkata seperti itu, mengolok-olok diriku.

‘Kenapa kamu diam, bodoh? Baiklah akan kuceritakan apa yang terjadi? Waktu jam sepuluh, aku melewati terowongan yang begitu gelap dan sangat panjang. Di dalam terowongan itu, ada beberapa orang asing yang tiba-tiba menagih semua barang berhargaku. Aku tidak mau. Karena itulah aku seperti ini, setelah mukaku hancur, iPhone, laptop, buku data, semua yang ada di tasku diambil oleh mereka ! Sekarang kamu puas, huh !’ nadanya semakin tinggi. Aku berlari ke kamar dan mengambil sebuah kalung dan memperlihatkannya pada Kak Freddie.

‘Apa kakak tahu? Itulah yang terjadi pada ayah kita, kak. Ayah juga pernah seperti kakak. Tapi, ketika pulang ayak malah memeluk diriku dengan kasih sayang tanpa amarah. Setelah ayah meninggal, ayah menitipkan kalung ini untuk kita berdua. Kalung inilah yang paling berharga bagiku. Carly sayang kakak, dan Carly tidak ingin Kak Freddie seperti ini. Kamu…kamu bukan Kak Freddie. Kamu bukan Kak Freddie yang selalu memberi nasihat padaku, yang selalu menemaniku disaat ku takut, yang selalu sayang padaku. Kamu bukan Kak Freddie !’ teriakku.

Aku berlari ke kamar, menutup pintu kamar dengan sekencang mungkin. Kak Freddie hanya bisa diam melihat kalung pemberian ayah di meja. Aku menangis sekencang mungkin dan melempar bantal satu persatu. Aku sangat menyayangi Ka Freddie dan aku tahu dia juga menyayangiku. Tapi, aku tak tahan dengan perlakuan dia hari ini. Tetes demi tetes, air mataku terus mengalir. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.

Kak Freddie mengetuk pintu kamarku. Aku mencoba untuk berhenti menangis dan kubuka pintu kamarku. ‘Ini, kakak kembalikkan kalungmu.’ kata Kak Freddie.

‘Kakak minta maaf atas perlakuan kakak tadi. Kakak seperti anjing yang selalu memarahi orang.’

‘Huft.., Carly maafkan kak. Tapi jangan pernah hal ini terulang lagi. Dan, terima kasih untuk kalungnya.’

‘Ok deh, Kak Freddie janji. Jadi, kita baikkan?’

Aku mengangguk tanda setuju.

‘Thank you very much my lovely little sister. I love you.’

‘You’re welcome anytime. Aku juga sayang Ka Freddie.’

Malam itu berakhir dengan tawa dan kebahagiaan dalam diriku.

inspirated by my lovely brother.

love,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: